Mengapa Menguasai Wawancara Media Itu Krusial?

Wawancara Media bukan sekadar sesi tanya jawab; sebaliknya, ini adalah panggung emas bagi brand Anda. Sebab, liputan yang kredibel meningkatkan brand awareness dan kepercayaan publik secara signifikan.
Berbeda dengan iklan, publik cenderung lebih memercayai informasi dari media kredibel. Oleh karena itu, menguasai teknik komunikasi di hadapan jurnalis menjadi kunci vital. Tujuan utama Anda adalah memastikan setiap pertanyaan jurnalis pada akhirnya mengarah pada pesan inti (key message) yang ingin Anda sampaikan kepada khalayak luas.
Tantangan Komunikasi Saat Wawancara Media

#1 Pertanyaan Jurnalis yang Menyimpang atau Off-Topic
Saat sesi Wawancara Media, jurnalis sering membawa agenda mereka sendiri. Sebagai contoh, mereka mungkin mengajukan pertanyaan yang terlalu detail, terlalu personal, atau bahkan menyimpang dari topik utama yang sudah disepakati.
Jika Anda tidak siap, jawaban Anda bisa melebar, dan pesan inti brand Anda tenggelam. Maka dari itu, tantangan terbesar ini sering membuat narasumber kehilangan kontrol narasi.
- Data/Referensi Nyata: Praktisi PR sering mencatat kesalahan umum ini, di mana narasumber gagal mengarahkan kembali percakapan. Jadi, jika narasumber tidak memegang kendali atas isu, jurnalis cenderung meng-framing pemberitaan sepenuhnya dari sudut pandang mereka. Namun, tujuan Anda adalah tetap relevan, terlepas dari ke mana arah pertanyaan tersebut bergulir.
Oleh karena itu, persiapan key message yang kuat menjadi benteng pertahanan Anda. Anda harus merangkum nilai dan solusi brand Anda dalam dua hingga tiga kalimat. Selanjutnya, ini menjadi jangkar (anchor) yang akan Anda gunakan untuk menarik kembali fokus wawancara.
#2 Kurangnya Konsistensi dan Fokus pada Pesan Utama
Kesalahan umum lain saat Wawancara Media adalah inkonsistensi pesan, terutama jika ada lebih dari satu juru bicara. Jika pesan Anda kabur atau berubah-ubah, publik akan bingung, dan kredibilitas brand Anda melemah.
Terlebih lagi, ini sangat berbahaya, terutama dalam situasi krisis. Intinya, konsistensi adalah pilar utama dalam membangun kepercayaan brand.
- Tips Komunikasi Brand: Untuk menghindari hal ini, tentukan Pesan Utama (Key Message) yang singkat, jelas, dan konsisten di seluruh saluran. Pesan ini harus menjawab kebutuhan audiens dan membedakan brand Anda dari pesaing. Sebab, konsistensi visual dan verbal memastikan pesan Anda melekat kuat di benak audiens.
Selain itu, Anda harus memastikan semua juru bicara menjalani pelatihan media handling yang sama. Mereka harus tahu persis poin apa yang wajib disampaikan dan poin apa yang harus dihindari. Sebagai kesimpulan, fokus pada tiga poin utama sudah cukup untuk memberikan dampak yang kuat dan mudah diingat.
Teknik Komunikasi Jitu dalam Wawancara Media

#1 Kuasai Teknik Bridging (Menghubungkan)
Bridging adalah teknik paling penting saat Wawancara Media. Sebab, teknik ini memungkinkan Anda menjawab pertanyaan jurnalis secara singkat, lalu mengalihkan fokus secara halus ke salah satu key message Anda.
Dengan kata lain, ini membantu Anda mengendalikan percakapan agar agenda media tidak sepenuhnya menguasai.
- Penerapan Nyata: Bridging menggunakan frasa penghubung seperti: “Saya mengerti kekhawatiran Anda, tetapi pesan utamanya adalah…”, atau “Itu pertanyaan menarik, namun yang paling penting bagi kami saat ini adalah…”. Dengan mengaplikasikan bridging, Anda memperluas, mempersempit, atau membelokkan pertanyaan jurnalis secara profesional.
Maka dari itu, latihan penggunaan frasa bridging ini sebelum wawancara sangat disarankan. Ini memastikan transisi dari pertanyaan jurnalis ke pesan brand Anda terasa alami dan lancar. Singkatnya, tujuan Anda adalah menjawab pertanyaan dengan sopan tapi tidak mengorbankan pesan inti.
#2 Terapkan Teknik Flagging dan Listing
Selain bridging, dua teknik lain wajib Anda gunakan: Flagging dan Listing. Pertama, Flagging berfungsi memberi penekanan pada poin penting (misalnya, “Berita besarnya adalah…”), sehingga jurnalis dan audiens fokus pada kalimat Anda.
Kedua, Listing adalah penyampaian poin-poin secara terstruktur (misalnya, “Ada tiga solusi yang kami tawarkan: Pertama…”).
- Referensi Kredibilitas: Dalam komunikasi krisis, transparansi dan komunikasi terbuka sering menjadi strategi tim PR. Selanjutnya, ini ditunjang dengan penyampaian informasi yang jelas dan akurat, yang dipermudah dengan penggunaan listing dan data konkret. Dengan demikian, Anda membangun kepercayaan publik dan media.
Sehubungan dengan itu, penggunaan data pendukung dan fakta konkret dalam listing Anda akan membuat jawaban Anda sangat kredibel. Ini bukan sekadar opini; melainkan informasi yang terstruktur, akurat, dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, jurnalis sangat menghargai narasumber yang memberikan fakta pendukung.
Jadikan Setiap Wawancara Sebagai Kemenangan Brand

Menguasai Wawancara Media berarti Anda mengendalikan narasi brand Anda di ruang publik. Untuk itu, fokus pada persiapan yang matang—membuat key message ringkas, menguasai bridging, flagging, dan listing—dapat mengubah interview yang berpotensi menyimpang menjadi kesempatan emas.
Di samping itu, ingatlah, media memberikan kredibilitas yang tidak dapat Anda beli. Maka, gunakan setiap kesempatan wawancara untuk menunjukkan keahlian, konsistensi, dan nilai brand Anda.
Oleh karena itu, jangan pernah menghadiri interview tanpa rencana komunikasi yang jelas. Sebagai pengingat, setiap kata yang Anda ucapkan adalah representasi langsung dari brand Anda.
Kuasai Teknik Media Handling Anda
Anda ingin mendapatkan template key message yang teruji dan panduan lengkap pelatihan media handling profesional? Kami memiliki modul khusus yang mengajarkan cara menghadapi pertanyaan sulit serta teknik komunikasi krisis paling efektif.
Kunjungi Bissmedia sekarang untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan Wawancara Media yang efektif dan profesional. Jangan biarkan pertanyaan jurnalis merusak pesan inti brand Anda.